Bukan Hanya di Yaman, Sepasang Kekasih Pemenang Lotre Lakukan Demi Korban Kolera di Zimbabwe

Zimbabwe mengajak bubar vendor buah guna melawan wabah kolera

Minggu lalu, polisi Zimbabwe ribut dengan vendor yang menolak dialihkan dari jalan-jalan sebagai unsur dari upaya negara tersebut untuk memerangi wabah kolera, yang sudah merenggut lebih dari dua lusin jiwa dalam dua minggu terakhir.

Sebelumnya, vendor di Harare memperingatkan satu sama beda polisi huru hara bersenjata dan pejabat kota datang guna menyita barang barang-barang mereka. Segera setelah semua pejabat polisi pergi, semua pedagang bakal melanjutkan bisnis mereka.

Vendor Maria Mange menuliskan kecuali dia dipekerjakan, dia bakal tetap memasarkan sayuran dan buah-buahan di Harare: “Saya menampik untuk meninggalkan jalanan atas dasar bahwa kami mengakibatkan penyebaran kolera. Barang-barang kami dimurnikan atau direbus sebelum dikonsumsi. Ini ialah air kotor yang mengakibatkan kolera, kegagalan mereka untuk mengoleksi sampah, diperbanyak aliran limbah di jalan-jalan dan saluran pengasingan yang terhalang. Mengapa berkonsentrasi pada vendor dan bukan kriminal? ”

Namun Menteri Kesehatan Zimbabwe Obediah Moyo menuliskan tidak terdapat jalan kembali: “Masalah penjaja makanan ialah masalah lain, kita seluruh sepakat bahwa mesti berhenti, khususnya di wilayah episentrum [epidemi], bahwa polisi menolong kita guna menghentikan penjaja makanan. ”

Wabah kolera Zimbabwe sudah menyebar ke sejumlah bagian negara tersebut dari pusat gempa di pinggiran kota Harare yang padat penduduk.

Ternyata bukan hanya di Yaman saja, pemenang Casino menyumbangkan hadiahnya demi melakukan aksi sosial kepada korban wadah kolera. Dilasir dari Daftar Judi Bola, hal serupa juga terjadi di Zimbabwe, sepasang kekasih pemenang lotre memenangkan sejumlah hadiah dan menyumbangkan semua nya tanpa sepeser pun yang tersisa untuk korban kolera dimana wadah kolera yang terjadi di Zimbabwe memiliki tingkat keseriusan tinggi .

Organisasi internasional laksana UNICEF, WHO, dan MSF sudah pindah dengan bantuan. Tetapi kritikus menuliskan solusi jangka panjang ialah meningkatkan pasokan air, sanitasi dan pendataan sampah secara tertata oleh otoritas Zimbabwe.

Wabah kolera Zimbabwe membunuh 30 orang; Amnesty International menyalahkan sistem kesehatan pemerintah guna epidemi

Wabah kolera yang sedang dilangsungkan di Zimbabwe sudah menewaskan 30 orang dan sudah menyebar ke kota terbesar kedua negara itu, Bulawayo, menurut keterangan dari angka yang diserahkan oleh Menteri Kesehatan Obadiah Moyo.

Moyo menuliskan dua orang tewas sekitar akhir pekan dan bahwa langkah-langkah pengendalian telah dilaksanakan sementara air dan persediaan medis diangkut ke daerah-daerah yang terpapar bencana, lapor Efe.

Lebih dari 5.400 permasalahan kolera telah diadukan sejak wabah kesatu kali terdeteksi pada 6 September di pinggiran ibukota.

“Wabah kolera keempat Zimbabwe dalam 15 tahun terakhir diakibatkan ketika sumur air masyarakat di ibukota terkontaminasi dengan limbah mentah dari pipa saluran pengasingan yang bocor,” menurut keterangan dari pejabat dari dewan kota Harare.

Pada 11 September, pemerintah Zimbabwe memberitahukan keadaan terpaksa kesehatan di ibukota sesudah 20 orang meninggal dan 2.000 menjadi terinfeksi.

Direktur Eksekutif Hak Asasi Manusia Amnesty International di Zimbabwe, Jessica Pwiti, menyalahkan pemerintah atas krisis kolera terbaru.

“Wabah kolera ketika ini ialah konsekuensi mencekam dari kegagalan Zimbabwe untuk mengerjakan investasi dan mengelola baik air dasar dan infrastruktur sanitasi dan sistem perawatan kesehatannya,” kata Pwiti dalam suatu pernyataan.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB, yang sudah mengirim berpengalaman dan berpengalaman epidemiologi ke Zimbabwe guna mengorganisir kampanye vaksinasi, mencerminkan kolera sebagai “infeksi diare akut yang diakibatkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri Vibrio cholerae”.

Krisis ketika ini ialah yang sangat mematikan semenjak wabah kolera terjelek di Zimbabwe dari tahun 2008 sampai 2009, saat lebih dari 4.000 orang meninggal dan 90.000 orang terinfeksi.