Jutaan orang Yaman Menghadapi Kelaparan Ketika Bulan Ramadhan Tahun Ini

Setidaknya 17 juta orang menderita kelemahan makanan dalam apa yang dinamakan PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Sementara umat Islam di semua dunia merayakan Ramadhan dengan makanan eksklusif dan makanan lezat, jutaan orang Yaman menderita kelemahan makanan akut ketika perang dua tahun di negara tersebut berlangsung.

Berdasarkan keterangan dari badan-badan bantuan, 17 juta orang tidak memiliki lumayan makan, dalam apa yang dinamakan PBB sebagai “krisis kemanusiaan terbesar di dunia”.

Biasanya, orang melakukan pembelian barang sepanjang Ramadhan, tetapi empunya toko Yaman tidak mempunyai apa-apa guna dirayakan. Kami beserta website https://judisakti.info selalu mendoakan dan membantu sebisa mungkin untuk meringankan penderitaan saudara-saudara kita.

“Penjualan ialah yang terendah dari tahun lalu. Setiap tahun lebih buruk dari sebelumnya,” Yahya Hubar, seorang penjaga toko di Hodeidah, suatu kota pantai di Yaman barat, mengatakan untuk Al Jazeera.

Lebih dari dua juta anak sangat kelemahan gizi di Yaman, di mana seorang anak balita meninggal masing-masing 10 menit penyakit yang bisa dicegah, menurut keterangan dari laporan oleh UNICEF yang diterbitkan pada bulan Desember.

Di samping itu, negara ini menghadapi wabah kolera, yang sekitar ini telah menginfeksi lebih dari 29.000 orang.

Banyak yang berebut guna mendapatkan keperluan makanan, bukan lagi orang-orang merundingkan tentang makanan eksklusif yang disiapkan dan dinikmati sekitar bulan Ramadhan.

“Situasi kami paling sulit. Kami belum ditunaikan selama sejumlah bulan. Kebutuhan urgen sulit didapat dan harganya tinggi. Kami menggali barang yang tidak dapat kami beli,” kata Nabil Ibrahim, penduduk Hodeidah lainnya. Al Jazeera.

‘Tragedi belum pernah terjadi’

Ini ialah wajah ketiga Ramadhan Yaman dalam suasana perang. Mayoritas penduduk melulu mempunyai akses terbatas pada makanan dan obat-obatan.

PBB memerlukan $ 2,1 milyar guna memberikan pertolongan ke Yaman. Sejauh ini, melulu setengah dari jumlah yang telah dibangunkan untuk menolong mengatasi apa yang dinamakan sebagai “tragedi proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Orang-orang dari Hodeidah hidup dalam kondisi yang tragis. Ramadan tiba saat orang-orang paling menderita dampak gaji yang tidak dibayar, tidak terdapat listrik, tidak terdapat air dengan cuaca panas dan blokade sebab perang yang sedang dilangsungkan di Yaman,” Sadeq Al Saeedi, seorang pekerja amal , kata Al Jazeera.

Yaman telah menjadi di antara negara termiskin di area itu.

Konflik yang sedang dilangsungkan antara pejuang Huthi dan koalisi Arab sudah merenggut nyawa lebih dari 10.000 orang dan mendorong negara tersebut ke jurang kelaparan , menurut keterangan dari PBB.

Ini pun telah memungut korban di kemudahan kesehatan negara itu. Sejumlah lokasi tinggal sakit dan klinik sudah dibom, sedangkan yang beda harus memblokir pintu mereka sebab pertempuran.

Awal bulan ini, keadaan terpaksa diumumkan di ibukota Yaman yang dipegang oposisi, Sanaa, sesudah wabah kolera menewaskan puluhan orang.