Wabah Kolera Somaliland Mengancam Akan Membunuh Ribuan Orang

Awal tahun ini, ITV News mendatangi Somaliland – suatu negara unsur yang mendeklarasikan kebebasan dari bagian beda Somalia – guna menyoroti penderitaan rakyatnya yang menderita kelemahan gizi yang diakibatkan oleh tiga tahun kekeringan.

Sebagai unsur dari seri Kelaparan Melawan kami, Editor Urusan Internasional kami, Rageh Omaar, sudah kembali ke wilayah itu untuk menyaksikan bagaimana anak-anak yang telah dilemahkan oleh kelaparan dan penyakit sekarang mempunyai resiko tertular penyakit kolera yang mematikan.

Mohammed Abdi berusia empat tahun – namun ia terlihat tidak cukup dari separuhnya.

Anak-anak laksana dia telah dilemahkan oleh kelaparan dan penyakit, tetapi kini menghadapi ancaman tertular kolera.

Penyakit mematikan ialah salah satu penyebaran tercepat di Somaliland dan mengklaim kehidupan tidak sedikit orang, dari yang tua hingga yang paling muda.

Di sejumlah wilayah, 500 kasus diadukan setiap hari.

Dan tenda karantina sudah disiapkan guna menangani penyakit yang sangat parah sampai mereka bisa ditempatkan di bangsal lokasi tinggal sakit.

Somaliland: Profil distrik yang tidak dikenal oleh semua dunia

Tenda karantina di salah satu lokasi tinggal sakit terbesar di distrik ini.

Kolera ialah penyakit yang dapat diobati yang dikontrak melewati minum air kotor.

Tetapi itu ialah sesuatu yang sangat diharapkan oleh 4,5 juta warga Somaliland saat mereka berdiri di ambang kelaparan.

Dengan lebih dari separuh ternak mereka musnah dan tidak terdapat hujan sekitar tiga tahun, orang-orang mengkonsumsi air apa juga yang bisa mereka temukan.

Bahkan bila tersebut terkontaminasi oleh kotoran insan atau bangkai fauna yang membusuk.

Somaliland: ‘Tanpa pertolongan sekarang, kita seluruh akan selesai’

Sebagian besar air di Somaliland sudah terkontaminasi oleh bangkai fauna yang membusuk atau kotoran manusia.

Ketika ITV News sedang syuting, situasi Mohammed memburuk. Paru-parunya runtuh dan dia berusaha untuk bernafas.

Dokter membawanya ke ruang operasi dan sukses melepaskan desakan pada paru-parunya – namun dia masih tidak terbit dari bahaya.

Dia paling lemah oleh penyakit dan kelemahan gizi sebagai dampak dari kekeringan Somaliland, istirahatnya melulu sementara.

Luka dari operasinya sudah terinfeksi dan tidak terdapat yang tahu kapan, atau bila, dia bakal menjadi lebih baik.

Memerangi Kelaparan: Liputan Khusus Berita ITV

Tidak terdapat yang tahu andai atau kapan Muhamad bakal menjadi lebih baik.

Sameera menangis kesakitan. Dia baru berusia setahun dan mempunyai kolera.

Gejala-gejalanya tergolong diare akut, di antara tanda utama penyakit.

Dia diasuh di Rumah Sakit Burco – lokasi tinggal sakit umum terbesar di wilayah tersebut yang melayani minimal 350.000 orang.

Tetapi, laksana halnya Muhammad, tersebut tetap mesti disaksikan apakah dia bakal bertahan hidup.

Sameera yang berusia satu tahun ialah salah satu yang termuda yang mengidap kolera.

Berita ITV juga berkata kepada seorang ayah yang sudah kehilangan tiga anaknya ke kolera.

“Hal terjelek yang dapat terjadi pada siapa juga terjadi pada saya,” kata Mohammed.

“Ayah yang mesti mengubur tiga anak kecil, yang baru kemarin memanggilku ayah dan bermain denganku.”

Itulah yang sudah mendorongnya guna mendidik orang lain mengenai kolera – sampai-sampai mereka tidak mesti melalui kerusakan yang dia miliki.

Muhammad kehilangan tiga anaknya ke kolera dan kini mendidik orang-orang mengenai penyakit itu.

Pihak berwenang sudah bergegas untuk mengoleksi tim-tim sukarelawan guna pergi ke masyarakat guna menolong orang menghindari tertular kolera.

Penyakit ini – yang belum pernah tampak di negara maju laksana Inggris sekitar lebih dari 100 tahun – bisa dengan gampang diobati memakai sachet rehidrasi oral.

Tetapi tanpa penyembuhan seseorang bisa dengan cepat merasakan dehidrasi, merasakan shock dan mati.

Bagi warga Somaliland, memerangi penyakit hanyalah di antara perjuangan harian mereka, sedangkan mereka menantikan hujan datang dan pertolongan datang.

Agen Sbobet Terpercaya